Rumah yang Tak Pernah Kita Bangun
Aku pernah membayangkan kita seperti rumah—tempat pulang yang hangat setelah hari yang panjang. Tempat di mana cerita-cerita sederhana terasa cukup, dan kehadiran menjadi jawaban dari banyak hal.
Kamu adalah seseorang yang membuatku percaya bahwa pulang tidak selalu tentang tempat, tapi tentang siapa yang menunggu.
Kita merancang banyak hal tanpa benar-benar menyadarinya. Dari obrolan larut malam, rencana-rencana kecil yang terdengar sepele, sampai janji-janji yang tidak pernah benar-benar diucapkan.
Semua terasa seperti awal dari sesuatu yang besar.
Tapi perlahan, aku mulai mengerti bahwa tidak semua yang terasa “rumah” benar-benar bisa kita miliki. Ada jarak yang tidak terlihat, ada perbedaan yang tidak pernah selesai, dan ada keadaan yang tidak bisa kita lawan, sekeras apa pun kita mencoba.
Kita tidak pernah benar-benar membangun apa yang sudah kita bayangkan. Tidak ada fondasi, tidak ada dinding, tidak ada atap. Hanya harapan yang sempat berdiri, lalu runtuh tanpa suara.
Aneh rasanya, merindukan sesuatu yang bahkan belum sempat jadi kenyataan.
Namun jika aku diberi kesempatan untuk mengulang semuanya, mungkin aku tetap akan memilih jalan yang sama. Karena meskipun rumah itu tidak pernah ada, perasaan “pulang” yang pernah kamu berikan—itu nyata.
Dan untuk itu, aku tetap bersyukur.