Di Antara Waktu yang Tidak Pernah Tepat
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita akan menjadi sesuatu yang sulit untuk dilupakan. Waktu itu, semuanya terasa biasa saja—sekadar obrolan singkat yang bahkan hampir tidak aku ingat. Tapi anehnya, sejak hari itu, kamu selalu punya cara untuk muncul di pikiranku.
Kita tidak pernah benar-benar punya waktu yang tepat. Saat aku ingin mendekat, kamu sedang sibuk mengejar mimpimu. Saat kamu mulai membuka diri, aku justru sedang mencoba untuk menjauh, takut semuanya tidak akan berjalan seperti yang diharapkan.
Namun di tengah semua ketidaktepatan itu, ada satu hal yang selalu terasa benar: perasaan ini.
Kita pernah mencoba untuk tidak saling peduli. Mengurangi pesan, membatasi pertemuan, berpura-pura bahwa semuanya biasa saja. Tapi setiap kali kita berbicara lagi, rasanya seperti tidak ada jarak yang pernah tercipta.
Aku suka cara kamu bercerita tentang hal-hal kecil—tentang hari yang melelahkan, tentang kopi yang terlalu pahit, atau tentang mimpi-mimpi yang belum sempat kamu capai. Dan tanpa sadar, aku mulai ingin menjadi bagian dari semua cerita itu.
Mungkin kita tidak sempurna. Mungkin keadaan tidak selalu berpihak. Tapi jika ada satu hal yang aku pelajari dari semua ini, adalah bahwa cinta tidak selalu datang di waktu yang tepat—kadang dia datang untuk mengajarkan kita arti menunggu, memahami, dan bertahan.
Dan jika suatu hari nanti kita dipertemukan kembali dalam waktu yang lebih baik, aku harap kita masih memilih satu sama lain.